Skip to content

“Ketika Semua Menuntut, Siapa yang Mendengarkan Guru? Membangun Teacher Well-Being melalui Ekosistem Sekolah yang Mendukung”

  • by

Bandung, 4 November 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2026, Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat menyelenggarakan webinar bertema “Ketika Semua Menuntut, Siapa yang Mendengarkan Guru?” pada Rabu, 4 November 2026, pukul 13.30–15.30 WIB. Kegiatan daring ini dibuka oleh Kepala BBGTK Jawa Barat dan dihadiri lebih dari 600 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Mayoritas peserta merupakan guru, disertai sejumlah tenaga kependidikan, yang sebagian besar berasal dari Jawa Barat dan selebihnya dari berbagai wilayah lain, termasuk Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, hingga Maluku.

Webinar menghadirkan Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog, Wakil Dekan Sumber Daya dan Kemitraan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai narasumber. Beliau juga merupakan dosen Psikologi Pendidikan dan Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) Wilayah Jawa Barat. Kegiatan dipandu oleh Widaad Rifqiana, S.Psi., M.Pd., Widyaiswara BBGTK Jawa Barat, sebagai moderator.

Mengangkat pembahasan “Mengelola Beban Kerja dan Tuntutan Era Digital dalam Upaya Menjaga Kesejahteraan Psikologis Guru bersama Lakon Prima”, webinar ini memberikan ruang bagi guru untuk mengenali dan menyampaikan tantangan dalam menjalankan profesinya. Pembahasan tersebut dikaitkan dengan Lakon Prima, yaitu Layanan Konseling Pribadi Mandiri bagi guru dan tenaga kependidikan.

Peserta diajak menuliskan melalui kolom percakapan hal-hal yang paling menguras energi mereka sebagai guru. Mayoritas tanggapan menyebut tuntutan administrasi, sementara peserta lainnya mengungkapkan beban tugas tambahan, tantangan menghadapi perilaku belajar siswa di kelas, serta sikap orang tua Ketika menghadapi permasalahan siswa. Respons tersebut menjadi bahan refleksi bersama mengenai pentingnya dukungan terhadap kesejahteraan psikologis guru dalam keseharian di sekolah.

Pada sesi tanya jawab, peserta mengajukan pertanyaan mengenai siapa yang seharusnya mendengarkan guru dan bagaimana membangun teacher well-being. Tina menekankan pentingnya membangun ekosistem sekolah yang memberikan ruang bagi guru untuk didengarkan dan memperoleh dukungan. Kesejahteraan guru perlu menjadi perhatian serta tanggung jawab bersama dalam lingkungan sekolah.

Lebih lanjut, Tina menjelaskan bahwa peningkatan teacher well-being perlu dikembangkan untuk membangun school well-being, yaitu kesejahteraan seluruh warga sekolah. Upaya ini diharapkan memberikan dampak yang semakin luas, dari lingkungan sekolah hingga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Perhatian terhadap kesejahteraan guru tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang mencakup kesehatan mental dan kesejahteraan, serta SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Dukungan terhadap kesejahteraan psikologis guru menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung proses belajar dan perkembangan peserta didik. Pembahasan mengenai beban kerja dan dukungan di lingkungan sekolah juga relevan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam mendorong lingkungan kerja yang sehat dan mendukung bagi pendidik.

Menutup kegiatan, Tina mengajak peserta untuk belajar menerima dan mensyukuri kondisi, situasi, serta profesi sebagai bagian dari kehidupan yang telah Allah tetapkan. Penerimaan dan rasa syukur tersebut perlu diwujudkan melalui langkah aktif untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik, termasuk dengan tidak terlalu keras terhadap diri sendiri.

Tina juga mengingatkan pentingnya merawat diri melalui kebiasaan sehari-hari, seperti berolahraga, beristirahat yang cukup, dan memperhatikan asupan makanan. Pesan penutup ini melengkapi pembahasan bahwa kesejahteraan guru perlu dibangun melalui kepedulian terhadap diri sekaligus dukungan dari ekosistem sekolah.

Peserta menyampaikan apresiasi atas materi webinar yang dirasakan bermanfaat dan memberikan pencerahan. Berbagai ucapan terima kasih serta emoji hati turut menjadi ungkapan respons positif peserta terhadap kegiatan ini. (Tina Dahlan, 2026)