BANDUNG — Kekayaan kuliner tradisional merupakan salah satu identitas budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata. Salah satunya adalah ragam jajanan berbahan dasar tepung tapioka atau yang lebih dikenal dengan sebutan aci, seperti cireng, cilok, cimol, dan batagor yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Tatar Sunda.
Fenomena budaya kuliner tersebut menjadi perhatian Dr. Dewi Turgarini, M.M.Par., Pakar Wisata Gastronomi Indonesia sekaligus dosen Program Studi Magister Pariwisata, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Dr. Dewi Turgarini memberikan perspektif akademis mengenai latar belakang, keunikan, serta potensi pengembangan jajanan aci sebagai bagian dari kekayaan gastronomi Indonesia.
Menurut Dr. Dewi Turgarini, popularitas jajanan berbahan dasar aci tidak terlepas dari faktor sejarah, ketersediaan bahan baku lokal, serta kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah bahan pangan sederhana menjadi beragam sajian yang memiliki karakteristik dan daya tarik tersendiri. Perpaduan tekstur yang khas, seperti garing di bagian luar dan kenyal di bagian dalam, turut membentuk pengalaman sensorik yang menjadikan jajanan aci mudah dikenali dan melekat dalam memori kolektif masyarakat.
Lebih dari sekadar makanan ringan atau jajanan jalanan (street food), ragam olahan aci juga merepresentasikan kreativitas, pengetahuan lokal, dan tradisi kuliner masyarakat Sunda yang diwariskan secara turun-temurun. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas budaya yang perlu dikenali, dilestarikan, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang.
Dari perspektif pariwisata gastronomi, Dr. Dewi Turgarini menekankan bahwa jajanan tradisional seperti cireng, cilok, cimol, dan batagor memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya. Pengalaman menikmati kuliner lokal tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal sejarah, proses pengolahan, bahan baku, serta nilai-nilai sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.
Oleh karena itu, edukasi dan pengembangan manajemen wisata gastronomi yang berkelanjutan menjadi aspek penting dalam mengoptimalkan potensi kuliner lokal. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi kuliner masyarakat Tatar Sunda sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha kuliner, UMKM, dan masyarakat setempat.
Pandangan akademis Dr. Dewi Turgarini ini sekaligus memperlihatkan kontribusi keilmuan dosen Magister Pariwisata SPs UPI dalam mengangkat kekayaan budaya lokal menjadi potensi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen SPs UPI dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak bagi pelestarian budaya serta pemberdayaan masyarakat.
Inisiatif ini juga relevan dengan pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDGs 8 Decent Work and Economic Growth melalui penguatan ekonomi kreatif dan UMKM kuliner, serta SDGs 11 Sustainable Cities and Communities melalui pelestarian warisan budaya dan tradisi lokal.
Melalui publikasi dan diseminasi pengetahuan seperti ini, SPs UPI terus mendorong hadirnya kontribusi akademik yang tidak hanya memperkaya wawasan masyarakat, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pelestarian identitas budaya dan pengembangan pariwisata Indonesia.
Saksikan video lengkap Serba-Serbi Jajanan Aci Khas Tatar Sunda bersama Dr. Dewi Turgarini, M.M.Par. melalui tautan berikut:
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Leading and Outstanding

