Skip to content

“Sekolah Pascasarjana UPI dan Pascasarjana UNIDA Gontor Jalin Kerja Sama, Perkuat Pendidikan Pesantren Berbasis Human Capital dan Kesejahteraan Psikologis”

  • by

PONOROGO – Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) dan Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan melalui penandatanganan kerja sama di UNIDA Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Senin, 19 Oktober 2026.

Penandatanganan kerja sama tersebut sekaligus menjadi momentum implementasi kolaborasi akademik antara Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI dan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UNIDA Gontor.

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat mutu pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta kesejahteraan psikologis dalam ekosistem pendidikan pesantren. Kegiatan tersebut juga menjadi kontribusi nyata aktivitas akademik kedua perguruan tinggi dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) sebagai upayapenguatan mutu pendidikan pesantren, kompetensi dan kebahagiaan guru, pengembangan karakter santri, serta integrasi psikologi pendidikan dengan pendidikan Islam.

Begitu pundengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), kegiatan ini berupaya untuk menghasilkan kajian Psychological Well–Being, Student Well–Being, dan Teacher Well–Being yang bertujuan mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan psikologis warga pesantren. Selain itu, dikembangkan pula dukungan terhadap SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) yang berkaitan dengan pembentukan pendidikan berkarakter, pembiasaan adab, penguatan hubungan sosial, serta upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bebas kekerasan.

Sebagai implementasi kerja sama, kegiatan akademik menghadirkan tiga materi strategis yang saling berkaitan, yakni pengembangan human capital berbasis pesantren, kebahagiaan dan keteladanan guru, serta kesejahteraan psikologis dalam ekosistem pendidikan pesantren.

Ketiga isu tersebut menjadi penting di tengah tantangan pendidikan modern yang tidak hanya menuntut pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kesehatan mental, serta penguasaan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Penguatan Human Capital Berbasis Nilai Pesantren

Dalam paparannya, Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. mengangkat pentingnya pembangunan human capital berbasis pesantren melalui integrasi iman, ilmu, adab, dan kompetensi.

Pengembangan sumber daya manusia dalam pendidikan pesantren dinilai perlu melampaui pendekatan yang hanya menekankan penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknis. Pendidikan juga harus mampu menanamkan nilai spiritual, tanggung jawab moral, serta kepedulian sosial.

Integrasi keempat unsur tersebut menjadi landasan dalam membentuk generasi yang memiliki kecakapan intelektual, kematangan spiritual, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pesantren juga memiliki potensi untuk mengembangkan kewirausahaan, kepemimpinan, literasi digital, dan keterampilan hidup dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi pendidikan.

Guru Bahagia, Kunci Pendidikan yang Memanusiakan

Sementara itu, Prof. Dr. Mubiar Agustin, M.Pd. melalui materi Bahagia Menjadi Guru: Kiat Menjadi Guru yang Dicintai menekankan pentingnya peran pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, positif, dan bermakna.

Guru tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus mampu membangun hubungan emosional yang sehat dengan peserta didik melalui keteladanan, kasih sayang, dan komunikasi yang menghargai martabat manusia.

Beliau memperkenalkan formula komunikasi pembelajaran DEMUBI, yakni Dengar, Ekspresi, Muka Ceria, Ucapan Positif, Bertanya Jawab, dan Inisiatif.

Pendekatan tersebut menekankan pentingnya keterampilan komunikasi positif sebagai bagian dari upaya membangun pengalaman belajar yang menyenangkan dan mendukung perkembangan sosial-emosional peserta didik.

Dalam konteks pendidikan pesantren, kebahagiaan dan kesejahteraan pendidik menjadi aspek penting karena guru, ustaz, dan pengasuh tidak hanya menjalankan fungsi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesejahteraan Psikologis Santri dan Guru Jadi Perhatian

Pada kesempatan yang sama, Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons., dosen Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UPI, mengangkat materi Well-Being dalam Ekosistem Pendidikan Pesantren.

Kajian tersebut menyoroti pentingnya membangun kesejahteraan psikologis sebagai fondasi pendidikan pesantren yang sehat, humanis, dan mendukung perkembangan seluruh warganya.

Kesejahteraan psikologis atau psychological well-being tidak hanya dimaknai sebagai kondisi ketika individu merasa bahagia, tetapi juga mencakup kemampuan menerima diri, membangun hubungan positif, memiliki tujuan hidup, mengembangkan kemandirian, menguasai lingkungan, dan terus bertumbuh sebagai pribadi.

Dalam konteks pesantren, kesejahteraan psikologis perlu dikembangkan secara menyeluruh dengan mengintegrasikan kesejahteraan santri (student well-being), kesejahteraan pendidik (teacher well-being), dan kualitas lingkungan pendidikan.

Kehidupan pesantren yang mengintegrasikan pembelajaran, pengasuhan, pembiasaan spiritual, dan interaksi sosial memiliki potensi besar untuk membentuk ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan psikologis peserta didik.

Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan relasi positif, komunikasi yang empatik, lingkungan yang aman, serta perhatian terhadap kebutuhan psikologis setiap individu.

Melalui pendekatan whole-pesantren well-being, kesejahteraan psikologis diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya pendidikan dan tata kelola pesantren, bukan hanya menjadi tanggung jawab layanan bantuan individual.

Membangun Pesantren Unggul, Humanis, dan Berkelanjutan

Ketiga materi yang disampaikan menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, kurikulum, dan sarana pembelajaran, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia, kemampuan pendidik membangun hubungan yang positif, serta kondisi psikologis peserta didik dan seluruh warga lembaga pendidikan.

Sebagai perguruan tinggi yang terus memperkuat keunggulan dalam bidang pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengusung semangat “UPI Melesat” untuk mendorong transformasi pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Semangat tersebut diwujudkan melalui peran aktif Sekolah Pascasarjana UPI dalam membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pendidikan, termasuk Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, guna memperluas kontribusi keilmuan dalam pengembangan pendidikan Islam dan ekosistem pesantren.

Melalui implementasi kerja sama antara Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI dan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UNIDA Gontor, UPI berupaya menghadirkan pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan keunggulan akademik, nilai-nilai spiritual, penguatan karakter, serta kesejahteraan psikologis.

Kolaborasi ini menjadi wujud kontribusi UPI dalam membangun pesantren unggul, humanis, dan berkelanjutan. Pesantren unggul ditandai oleh kualitas sumber daya manusia, kompetensi pendidik, dan inovasi pembelajaran. Pesantren humanis diwujudkan melalui pendidikan yang menghargai martabat manusia, mengembangkan relasi yang empatik, serta memperhatikan kesejahteraan psikologis santri dan pendidik. Sementara itu, pesantren berkelanjutan dibangun melalui penguatan kelembagaan, kolaborasi akademik, dan pengembangan pendidikan yang responsif terhadap tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.

Dengan semangat “UPI Melesat”, kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kelembagaan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak berkelanjutan.

Melalui sinergi keilmuan psikologi pendidikan dan pendidikan Islam, UPI bersama UNIDA Gontor berkomitmen mendorong terwujudnya pendidikan pesantren yang tidak hanya melahirkan generasi cerdas dan berprestasi, tetapi juga berakhlak mulia, sejahtera secara psikologis, tangguh menghadapi perubahan, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sinergi ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDG 3, SDG 4, dan SDG 16, menuju pendidikan Indonesia yang berkualitas, humanis, serta berkelanjutan. (IM23, AD, DZ, ZRC)