BANDUNG – Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) mengembangkan penghijauan kampus melalui budidaya tanaman anggur yang menggabungkan fungsi keindahan, pemanfaatan lahan produktif, dan edukasi pangan berkelanjutan. Melalui Tim Pengelolaan Sampah dan Penghijauan Green Metric, program ini diarahkan untuk memperkuat lingkungan kampus yang hijau sekaligus memperkenalkan praktik budidaya tanaman buah kepada warga kampus dan masyarakat.
Pada tahap awal, tim telah menanam enam pohon anggur yang mencakup tiga varietas, yaitu Jupiter, GosV, dan Heliodor. Penanaman dilakukan dengan teknik tabulampot atau tanaman buah dalam pot serta semi-grounding. Kedua pendekatan tersebut dipilih untuk menyesuaikan pengembangan tanaman dengan ketersediaan lahan di lingkungan SPs UPI.
Pengembangan budidaya anggur ini memperluas manfaat penghijauan kampus. Kehadiran tanaman buah menghadirkan ruang untuk mengenali proses budidaya, memahami kebutuhan pemeliharaan tanaman, dan melihat peluang pemanfaatan lahan secara produktif. Area kampus dengan demikian dapat berfungsi sebagai lingkungan yang mendukung tumbuhnya pengetahuan serta kebiasaan peduli terhadap keberlanjutan.
Pemilihan anggur sebagai salah satu tanaman penghijauan didasarkan pada pertimbangan estetika, potensi ekonomi, dan keberlanjutan pemeliharaan. Karakter tanaman yang merambat memberikan peluang penataan vegetasi yang menarik. Pertumbuhan tajuk dan dedaunannya juga dapat diarahkan untuk membentuk area hijau yang mendukung kenyamanan lingkungan kampus.
Dari sisi penataan ruang, budidaya tanaman merambat membuka pilihan pemanfaatan ruang tumbuh secara vertikal. Pendekatan tersebut relevan bagi lingkungan perkantoran dan pendidikan yang perlu menyesuaikan penghijauan dengan keterbatasan lahan. Melalui pengelolaan yang tepat, tanaman buah dapat menjadi bagian dari penataan lingkungan yang mempertemukan kebutuhan keindahan dan fungsi produktif.
Sebagai tanaman tahunan, anggur juga memberikan kesempatan untuk membangun pemeliharaan dalam jangka panjang. Perkembangan tanaman dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai hubungan antara penanaman, perawatan, dan keberlangsungan ruang hijau. Nilai keberlanjutan program terletak pada kesinambungan pengelolaannya sejak tanaman mulai ditanam hingga memasuki tahap pertumbuhan berikutnya.
Potensi ekonomi anggur menjadi pertimbangan lain dalam pengembangan program. Budidaya tanaman ini dapat memperkenalkan peluang pengembangan komoditas hortikultura yang memiliki nilai jual. Bagi warga kampus dan masyarakat, pengenalan tersebut diharapkan menumbuhkan minat untuk mempelajari budidaya anggur sesuai kondisi lahan dan kemampuan pemeliharaan masing-masing.
Peluang pengembangan anggur domestik juga berkaitan dengan besarnya pasar buah tersebut di Indonesia. Sebagai gambaran, publikasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, pada November 2023 memuat keterangan mengenai nilai impor anggur Indonesia sekitar Rp7 triliun. Informasi tersebut menjadi konteks penting bagi pengenalan budidaya anggur dalam negeri dan pengembangan pengetahuan masyarakat mengenai potensinya.
Dalam lingkup SPs UPI, penanaman enam pohon anggur diarahkan sebagai langkah awal penghijauan produktif dan edukasi. Kontribusi terhadap agenda ketahanan pangan ditempatkan pada upaya membangun pengetahuan, minat, serta partisipasi dalam budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, warga kampus dapat mengenali bahwa pemanfaatan ruang untuk tanaman produktif dapat dimulai dari lingkungan sendiri.
Salah satu aspek penting program ini adalah keterhubungannya dengan pengolahan sampah organik kampus. Sebagian besar pemupukan tanaman anggur memanfaatkan kompos yang diproduksi secara mandiri oleh tim dari sampah daun di lingkungan SPs UPI. Penggunaan kompos tersebut menghubungkan kegiatan pengelolaan kebersihan dengan pemeliharaan tanaman buah.
Integrasi ini memperlihatkan penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatan operasional kampus. Daun yang dikumpulkan dari lingkungan SPs UPI diolah menjadi kompos, kemudian dimanfaatkan kembali untuk menunjang budidaya tanaman. Melalui siklus tersebut, bahan organik memperoleh kegunaan baru dan menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya di tingkat unit kerja.
Pemanfaatan kompos juga memberikan contoh yang mudah diamati mengenai hubungan antara sampah dan kebutuhan pemeliharaan lingkungan. Bahan yang dihasilkan dari kegiatan kebersihan dapat diolah untuk mendukung penghijauan. Praktik tersebut membuka ruang edukasi mengenai pentingnya pengolahan sampah dari sumber serta penggunaan kembali bahan yang masih memiliki manfaat.

Sebagai media edukasi publik, budidaya anggur berpotensi mempertemukan pengetahuan tentang tanaman, lingkungan, dan pangan dalam satu kegiatan. Warga kampus dapat mengenali varietas yang ditanam serta mengamati perkembangannya. Pengalaman tersebut dapat menjadi titik awal untuk membicarakan pemanfaatan pekarangan, pengelolaan bahan organik, dan tanggung jawab dalam merawat lingkungan.
Keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) terutama terlihat pada SDG 2: Tanpa Kelaparan, yang juga mencakup ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan. Program ini sejalan dengan semangat Target 2.4 melalui pengenalan budidaya produktif yang memperhatikan pengelolaan lingkungan. Pada skala kampus, dukungannya diwujudkan melalui edukasi dan praktik pemanfaatan lahan untuk tanaman buah.
Penggunaan kompos dari sampah daun berkaitan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, khususnya Target 12.5 mengenai pengurangan sampah melalui daur ulang dan penggunaan kembali. Keterkaitan tersebut tampak pada pemanfaatan bahan organik kampus sebagai masukan bagi kegiatan budidaya. Pengelolaan sampah dan penghijauan menjadi dua kegiatan yang saling mendukung.
Sementara itu, tujuan program sebagai sarana edukasi memiliki relevansi dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama semangat Target 4.7 tentang pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Potensi pendidikan tersebut terletak pada kesempatan belajar dari praktik nyata di lingkungan kampus, termasuk memahami keterhubungan antara produksi pangan, penggunaan sumber daya, dan kepedulian ekologis.
Dalam kerangka kinerja UPI, pengembangan penghijauan produktif ini mendukung upaya yang berkaitan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) 5.1 tentang peringkat universitas dalam pencapaian UI GreenMetric. Kontribusinya terletak pada penguatan praktik pengelolaan lingkungan kampus. Penanaman dan pemeliharaan anggur menjadi bagian dari usaha SPs UPI untuk menghadirkan ruang hijau yang memiliki manfaat ekologis dan edukatif.
Adapun pengolahan sampah daun menjadi kompos yang digunakan dalam budidaya tersebut relevan dengan Indikator Kinerja Khusus (IKK) 5.2, yaitu persentase unit yang telah melakukan pengolahan sampah mandiri. Hubungan ini memperlihatkan bahwa pengembangan tanaman produktif dapat berjalan bersama pengelolaan bahan organik, sehingga pelaksanaan program memiliki keterkaitan dengan sasaran kinerja institusi.
Melalui budidaya anggur, SPs UPI berharap dapat mendorong keterlibatan sivitas akademika dalam pemanfaatan lahan produktif dan pemeliharaan lingkungan. Enam pohon yang ditanam menjadi titik awal untuk memperkenalkan penghijauan yang menghubungkan keindahan kampus, edukasi ketahanan pangan, dan ekonomi sirkular. Keberlanjutan perawatannya diharapkan menghadirkan manfaat yang terus berkembang bagi lingkungan SPs UPI dan menjadi inspirasi bagi masyarakat.

