Skip to content

“SPs UPI Selenggarakan Tausyiah Rutin Bertema Menjadi Manusia Terbaik: Membangun Karakter dan Memperbanyak Amal Saleh sebagai Bekal Kehidupan”

  • by

Bandung, 3 Juli 2026 – Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) kembali menyelenggarakan kegiatan tausyiah rutin bagi seluruh sivitas akademika sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan spiritual, karakter, dan integritas di lingkungan akademik. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 3 Juli 2026 bertepatan dengan 18 Muharram 1448 H ini menghadirkan Prof. Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd. (Abu Raihan) bin H. Tjahra Sumpena sebagai penceramah dengan tema “Menjadi Manusia Terbaik: Kiat Berbekal Amal Saleh Secara Maksimal di Usia Senja.”

Kegiatan tausyiah merupakan agenda pembinaan rutin yang diselenggarakan oleh SPs UPI sebagai wadah untuk memperkuat dimensi spiritual di tengah aktivitas akademik. Selain menjadi sarana mempererat ukhuwah antar sivitas akademika, kegiatan ini juga menjadi media refleksi agar setiap insan akademik mampu menyeimbangkan pencapaian intelektual dengan kematangan moral, etika, dan nilai-nilai keagamaan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, tenaga kependidikan, peneliti, maupun mahasiswa.

Dalam tausyiahnya, Mubiar Agustin mengajak seluruh peserta untuk merenungkan hakikat kehidupan yang pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa bertambahnya usia bukan hanya menunjukkan perjalanan waktu, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia semakin meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak amal saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas.

Merujuk pada QS. Al-Ahqaf ayat 15, narasumber menekankan bahwa usia empat puluh tahun merupakan momentum penting bagi setiap muslim untuk melakukan evaluasi diri. Pada fase tersebut, seseorang dianjurkan untuk semakin bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT, berbakti kepada kedua orang tua, memohon agar diberikan kemampuan untuk terus melakukan amal saleh yang diridhai-Nya, serta mempersiapkan generasi penerus yang saleh dan berakhlak mulia. Pesan Al-Qur’an tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari kualitas pengabdian kepada Allah dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Selain mengajak peserta untuk memperbanyak rasa syukur, narasumber juga menyampaikan doa-doa yang dianjurkan ketika memasuki usia senja. Doa tersebut mengandung harapan agar Allah SWT melimpahkan keberkahan rezeki, memberikan umur yang dipenuhi ketaatan, memperbaiki amal perbuatan, serta menjadikan sisa usia sebagai kesempatan terbaik untuk semakin dekat kepada-Nya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa semakin bertambah usia, semakin besar pula tanggung jawab seseorang dalam memanfaatkan waktu yang masih diberikan dengan amal yang bernilai ibadah.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan teladan dari para nabi, di antaranya Nabi Ya’qub AS yang mewariskan nilai-nilai tauhid kepada keturunannya, Nabi Zakariya AS yang tidak pernah berhenti berdoa dan berharap kepada Allah meskipun telah memasuki usia lanjut, serta Nabi Ibrahim AS yang memohon agar dikenang sebagai pribadi yang baik oleh generasi setelahnya. Kisah-kisah tersebut memberikan inspirasi bahwa manusia terbaik adalah mereka yang istiqamah menjaga keimanan, terus beramal, dan meninggalkan warisan kebaikan bagi keluarga maupun masyarakat.

Melalui penyampaian yang komunikatif dan penuh hikmah, para peserta diajak untuk menjadikan setiap fase kehidupan sebagai kesempatan memperbaiki diri. Kesibukan dalam menjalankan aktivitas akademik hendaknya tidak mengurangi semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah, menjaga hubungan dengan sesama, serta membangun karakter yang jujur, amanah, dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan budaya akademik yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Penyelenggaraan tausyiah rutin ini juga menjadi bagian dari komitmen SPs UPI dalam mewujudkan ekosistem pendidikan tinggi yang holistik, yakni pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan unggul dalam aspek akademik dan penelitian, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual, emosional, dan sosial. Pembinaan karakter melalui kegiatan keagamaan diyakini mampu membentuk insan akademik yang memiliki integritas tinggi, etika profesi yang kuat, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kegiatan ini sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Quality Education) melalui penguatan pendidikan karakter, pembentukan nilai-nilai moral, dan pengembangan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Selain itu, tausyiah ini turut mendukung SDGs 3 (Good Health and Well-being) melalui pembinaan kesehatan mental dan spiritual yang menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesejahteraan individu. Di sisi lain, penanaman nilai kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan akhlak mulia juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) dengan membangun budaya organisasi yang beretika, transparan, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui kegiatan tausyiah yang diselenggarakan secara berkelanjutan, SPs UPI berharap seluruh sivitas akademika senantiasa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat sekaligus memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral, diharapkan lahir insan-insan akademik yang tidak hanya berprestasi di bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan peradaban yang berkelanjutan.