Bandung, 2026 – Dosen Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana (SPs.), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Guru Seni Budaya Kota Bandung dan mahasiswa jenjang Master serta Doktor mengadakan kegiatan workshop kreasi seni yang memanfaatkan (reuse)sampah pada tanggal 8 Juni 2026 di Laboratorium Arts and Culture, SPs. UPI. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berjudul “Workshop Kreasi Seni berbasis Green Metric untuk Peningkatan Kesadaran Lingkungan dan Kompetensi Global Guru Seni Budaya di Kota Bandung”. Green Metric adalah kerangka penilaian keberlanjutan lingkungan yang dikembangkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia yang mencakup enam indikator utama yakni penataan ruang dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan sampah, penggunaan air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian. Dalam konteks PkM ini, prinsip-prinsip Green Metric diadaptasi sebagai landasan konseptual sekaligus inspirasi kreatif bagi Guru Seni Budaya untuk merancang pembelajaran seni yang mengangkat isu keberlanjutan lingkungan.
Melalui pendekatan pedagogik artistik dalam workshop ini diharapkan nilai-nilai ramah lingkungan dapat ditanamkan kepada Guru Seni Budaya. Hal ini sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang pendidikan berkualitas yang menekankan peningkatan kompetensi pendidik secara inklusif dan berkelanjutan, serta SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan yang mendorong kolaborasi lintas sektor dan jaringan global dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia. Kegiatan workshop ini bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya tingkat SMP Kota Bandung. MGMP Seni Budaya memegang peranan penting untuk berkonstribusi pada daerahnya untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Kota Bandung merupakan Kota Urban yang kreatif dan mengglobal, tetapi Kota Bandung darurat sampah. Oleh karena itu, Kota Bandung memerlukan modal sosial yang kuat, inovasi dan kreativitas dari warganya termasuk guru, dosen, dan siswa serta mahasiswa untuk berkonstribusi dalam mensolusikan darurat sampah ini.

Dalam workshop ini terdapat tiga sub tema yang dikembangkan oleh para dosen untuk pembelajaran kreasi seni berbasis isu lingkungan dan kompetensi global. Prof. Juju Masunah, Ph.D. bersama Dr. Reni Haerani, M.Pd. mengimplementasikan hasil riset tentang “Kolaborasi Penciptaan Tari untuk mengembangkan kompetensi global mahasiswa”. Dalam risetnya, Masunah, et al. (2025) mengeksplorasi koreografi eko-sosial dalamkarya seni yang berjudul Bumi Plastik. Dengan metode arts-based research, penciptaan karya Bumi Plastik diarahkan untuk peningkatan kompetensi global mahasiswa terkait pengetahuan dan kesadaran global. Temuan berupa konsep pedagogi penciptaan tari berbasis isu lingkungan. Temuan ini disosialisasikan kepada Guru Seni Budaya dengan sub tema “Pembelajaran Tari Kreasi Berbasis Deep Learning untuk Kompetensi Global.” Para guru mengapresiasi karya Bumi Plastik melalui link youtube channel Prodi Pendidikan Seni SPs, UPI: https://www.youtube.com/watch?v=J8w1tHcs5pw&t=22s.dan mendiskusikan proses berkarya serta pedagogi dengan pendekatan deep learning.
Dr. Rita Milyartini, M.Si. bersama Dr. Uus Karwati, M.Hum. mendiskusikan darurat sampah di Kota Bandung dan bagaimana peran serta kita dalam mengurangi dampak lingkungan akibat sampah. Konsep Reuse, Recycle, dan Residu menjadi bahan diskusi yang hangat. Selanjutnya konsep reuse sampah dipilih untuk berkarya seni dengan memilih dan memilah karakteristik sampah. Kemudian, para guru dibimbing untuk mengeksplorasi karakter bunyi dari botol plastik bekas dan kertas sebagai perkusi dalam menghasilkan rhythm dan variasi bunyi, lalu membuat lagu. Para guru dengan bimbingan dosen berkreasi musik dan apresiasi karya musik yang ditampilkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Jenjang Magister.

Dr. Tri Karyono, M.Sn dan Wisnhu Wardhana, M.Ds. (Ketua MGMP Seni Budaya Tingkat SMP Kota Bandung) menyajikan tema “Zero Waste Lifestyle: Kolase Limbah Plastik Seni Lukis Ramah Lingkungan.” Dr. Tri Karyono menggunakan konsep reuse, recycle, dan redesign pada sampah unorganik. Tahapan berkarya diawali dengan pemilihan sampah, membuat sketsa di atas kanvas dan modelling, lalu perekatan dengan cara collage, pewarnaan, dan finishing tauch. Alat dan bahan yang digunakan adalah plastik kemasan warna, lem, pewarnaan cat (Akrilik atau cat minyak), kuas palet/pencampur cat palet (pencampur cat/pisau palet), wadah/ember untuk cuci kuas, dan lap. Dengan bahan-bahan yang disedikan, para guru berkarya secara berkelompok, yang diawali dengan diskusi mengenai tema untuk membuat sketsa model pada kanvas, memilih jenis sampah dan menggunting serta menempel/merekat guntingan sampah pada sketsa. Setelah semua sketsa model ini ditempeli guntingan sampah, para guru mengulaskan cat minyak di atas tempelan sampah sesuai dengan desain yang diinginkan. Maka jadilah karya seni kolase painting.
Dr. Tri Karyono menegaskan bahwa “Pekerjaan ramah lingkungan adalah pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan atau pemulihan lingkungan.” Beberapa karya yang diciptakannya berbasis sampah plastik dibuat sebagai contoh dalam workshop ini, dan para guru secara berkelompok berkarya seni dengan memanfaatkan ulang (reuse), mendaur ulang (recycle), dan mendesain ulang (redign) sampah menjadi karya seni. Karya yang dihasilkan melalui workshop ini akan dipamerkan dalam kegiatan seminar internasional bertajuk “Quo Vadis 21th” pada tanggal 23 Juni 2026 di Lobby Pascasarjana UPI.

Selain bertugas mengedukasi tentang kesadaran lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan plastik, Program Studi Pendidikan Seni UPI juga bertugas merealisasikan kerja nyata melalui integrasikan pembelajaran berkarya seni dengan pemanfaatan sampah plastik. Melalui proses kreasi seni, sampah diangkat menjadi bermartabat dan bernilai ekonomi, serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan meningkat. (JM)
