Bandung 8 Juni 2026. Program Studi Pendidikan Seni Jenjang Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tanggal 8 Juni 2026 mempersembahkan sepuluh karya seni pertunjukan yang merupakan output mata kuliah Pendidikan Penciptaan Seni. Pertunjukan ini menghadirkan beragam perspektif mengenai tradisi, identitas budaya, spiritualitas, hingga isu lingkungan dan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Melalui metode riset artistik (Artistic-Based Research), para mahasiswa tidak hanya menciptakan pertunjukan tari, tetapi juga menghadirkan refleksi budaya yang berpijak pada kekayaan tradisi Nusantara. Dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Penciptaan Seni adalah Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd untuk bidang tari, dan Dr. Rita Milyartini, M.Si. untuk bisang musik, dan untuk bidang seni rupa serta desain diampu oleh Dr. Tri Karyono, M.Sn. Produk Seni rupa akan disajikan pada acara Seminar Internasional Quo Vadis ke XX1 tanggal 23 Juni 2026 di Gedung Pascasarjana UPI.
Tiga dari sepuluh karya seni pertunjukan adalah karya musik yang digarap secara berkelompok yaitu ^DE(S)IBEL^, Experimental Music, dan Jori Dogu Kazoo. Karya musik digarap secara eksploratif dan disusun menjadi sebuah komposisi dengan menggunakan alat yang dibuat dari barang bekas. Dengan mengangkat isu lingkungan dalam karya musik ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, baik bagi creator maupun apresiatornya.
Tujuh karya tari digarap secara individu yaitu Niskala Sangga, Ngareak, Kala Narasima, Tandur Kenca, Laku Raka, Aor Rahsa, dan Kama Lasmi mengangkat isu lokal yang digarap secara kontemporer. Niskala Sangga mengeksplorasi nilai kebersamaan dalam tradisi Seren Taun. Tari Ngareak menafsirkan kembali kesenian Reak di Ujung berung sebagai ekspresi spiritual dan identitas masyarakat. Tari Kala Narasima menghadirkan simbol-simbol ritual ruwatan yang menggambarkan pertarungan antara kekuatan baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Karya Tandur Kenca mengangkat kehidupan masyarakat agraris melalui gerak-gerak yang terinspirasi dari aktivitas bertani dan filosofi keselarasan dengan alam. Tari Laku Raka menyoroti fenomena sosial yang masih banyak ditemukan dalam masyarakat Sunda, yakni tekanan psikologis yang dialami seseorang ketika adiknya menikah lebih dahulu.
Perspektif lain ditawarkan melalui Aor Rahsa, yang mengangkat nilai keseimbangan maskulin dan feminin dalam ritual budaya, sedangkan karya Kama Lasmi yang menghadirkan sosok R.A. Lasminingrat sebagai simbol perjuangan perempuan Sunda dalam bidang pendidikan dan pemikiran progresif. Selain kekuatan gagasan, ketujuh karya tari juga menampilkan pengolahan artistik yang beragam melalui tata cahaya, musik, properti, kostum, dan desain ruang pertunjukan. Unsur-unsur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pendukung visual, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman estetik dan penyampaian makna kepada penonton.
“Proses kreatif dan pertunjukan tari menunjukkan bahwa tradisi tidak harus dipahami sebagai warisan yang statis, tetapi tradisi dapat terus berkembang melalui interpretasi kreatif yang tetap menghormati nilai-nilai budaya asalnya,” tutur mahasiswa yang berperan sebagai panitia penyelenggara. Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd. menegaskan bahwa “melalui penciptaan seni berbasis riset, para mahasiswa didorong untuk berinovasi karya tari sebagai media refleksi, edukasi, sekaligus ruang dialog antara masa lalu dan masa kini.” Program Studi Pendidikan Seni, SPs. UPI bekerjasama dengan MGMP Seni Budaya Kota Bandung menghadirkan guru-guru seni budaya untuk berapresiasi karya cipta tari dan musik sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tutur Prof. Juju Masunah, M.Hum., Ph.D. ketua Program Studi.
Pertunjukan seni yang dihasilkan oleh mahasiswa Pendidikan Seni jenjang Magister Angkatan 2025 menjadi bukti bahwa seni pertunjukan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menjawab berbagai isu lingkungan dan isu sosial. Kehadiran karya-karya tersebut diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni tari dan musik sebagai medium pengetahuan, ekspresi budaya, dan penguatan identitas bangsa. Mari mengapresiasi pertunjukan seni di Gedung Amphitheater UPI sekaligus pameran produk Kewirausahaan dan Industri Kreatif pada hari Senin tanggal 8 Juni 2026 dari jam 10.00 sampai dengan jam 21.00, terimakasih.

