Skip to content

“Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan SPs UPI Menyelenggarakan International FGD tentang Potensi Pengembangan Teknologi Coal-to-Nuclear di Indonesia”

  • by

Bandung, 26 Mei 2026 — Program studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan SPs UPI menyelenggarakan International Focus Group Discussion (FGD) bertema “Developing Feasibility Criteria for Coal-to-Nuclear Repowering of Existing Coal-Fired Power Plants in Indonesia” pada Selasa, 26 Mei 2026. Bertempat di Laboratorium Sekolah Pascasarjana Lantai 4, Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, kegiatan berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB dan dihadiri oleh tiga belas pakar dari berbagai universitas dan lembaga riset nasional maupun internasional.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudhi, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi riset multidisiplin antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan industri dalam mendukung agenda transisi energi nasional menuju Net Zero Emission (NZE). Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dekan Sekolah Pascasarjana UPI, Prof. Dr. Juntika, M.Pd., yang mengapresiasi terselenggaranya forum ilmiah internasional ini sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas riset, kolaborasi akademik, dan potensi publikasi ilmiah bersama. FGD dipimpin oleh Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia selaku moderator utama, yang memandu jalannya diskusi antar pakar secara terstruktur dan produktif.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam melakukan dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan. Sebagai negara dengan ketergantungan tinggi terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, Indonesia perlu menemukan strategi transisi energi yang tidak mengorbankan ketahanan energi nasional. Konsep Coal-to-Nuclear (C2N) Repowering, yakni transformasi atau pemanfaatan kembali infrastruktur PLTU eksisting menjadi lokasi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), mulai mendapat perhatian serius dalam berbagai studi internasional. Pendekatan ini dinilai berpotensi mengurangi emisi karbon secara signifikan, mempertahankan infrastruktur jaringan dan ketenagalistrikan yang telah tersedia, sekaligus mendukung transisi energi secara lebih ekonomis dan bertahap.

FGD ini menghadirkan tiga belas pakar terkemuka, yaitu Prof. Dr. Muhammad Aziz dari Tohoku University (Jepang); Prof. Dr. Eng. Zaki Suud, Prof. Dr. Eng. Sidik Permana, dan Dr. Eng. Firman Bagja Juangsa dari Institut Teknologi Bandung; Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah dari Universitas Pendidikan Indonesia; Prof. Dr. Arif Nur Afandi dari Universitas Negeri Malang; Prof. Dr. Eng. Topan Setiadipura selaku Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN; Dr. Mohammad Ali Shafii dari Universitas Andalas; Dr. Muhammad Nur Hudha dari Universitas Sebelas Maret; Dr. Eng. Rida Siti Nur’aini Mahmudah dari Universitas Negeri Yogyakarta; Dr. Eng. Farid Triawan dari Sampoerna University; Dr. Eng. Muhammad Kunta Biddinika dari Universitas Ahmad Dahlan; Dr. Karlisa Priandana dari Institut Pertanian Bogor; serta Dr. Nina Widiawati dari Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN.

Rangkaian diskusi berlangsung dalam tiga sesi panel. Panel pertama mengangkat tema Strategic and Policy Perspectives, membahas aspek strategis dan kebijakan dalam transisi PLTU menuju PLTN di Indonesia. Panel kedua berfokus pada Technical and Infrastructure Feasibility Criteria, mengkaji secara mendalam kriteria teknis, spasial, lingkungan, geologi, seismik, serta hidrologi yang relevan dalam studi kelayakan C2N. Pada panel ini, aspek pemanfaatan infrastruktur eksisting PLTU turut mendapat perhatian serius. Panel ketiga membahas Computational Framework and Research Collaboration, dengan penekanan pada pemanfaatan pendekatan komputasi berbasis Geographic Information Systems (GIS), Artificial Intelligence (AI), dan Multi-Criteria Decision-Making (MCDM) untuk mendukung evaluasi kelayakan C2N yang lebih komprehensif, terukur, dan transparan.

Seluruh sesi diskusi berlangsung secara dinamis dan produktif. Para pakar menyumbangkan perspektif multidisiplin yang mencakup sains nuklir, perencanaan energi, rekayasa komputasi, hingga kebijakan publik. Interaksi antara narasumber dan peserta menghasilkan perdebatan ilmiah yang konstruktif. Berbagai pertanyaan kritis diajukan peserta terkait kesiapan regulasi, aspek penerimaan publik, serta tantangan teknis implementasi C2N di Indonesia. Dinamika diskusi yang kaya ini memperkuat keyakinan bahwa kajian kelayakan C2N memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan lintas disiplin ilmu secara sinergis.

Dari kegiatan ini diharapkan lahir sejumlah luaran strategis yang bermakna. Di antaranya adalah draft awal kriteria studi kelayakan Coal-to-Nuclear Repowering di Indonesia, rekomendasi agenda riset nasional terkait transisi energi nuklir, serta penguatan jejaring kolaborasi riset nasional dan internasional. Selain itu, forum ini diharapkan membuka peluang publikasi ilmiah bersama di jurnal bereputasi internasional, pengembangan policy brief yang dapat menjadi rujukan pengambil kebijakan, serta fondasi bagi roadmap penelitian multidisiplin terkait transisi energi rendah karbon di Indonesia.

Kegiatan ditutup dengan sesi Rumusan Rekomendasi pada pukul 11.40 – 12.00 WIB. International FGD ini diharapkan menjadi forum strategis yang memperkuat kolaborasi akademik dan riset dalam mendukung pengembangan kebijakan serta kerangka ilmiah terkait studi kelayakan Coal-to-Nuclear Repowering di Indonesia. Sekolah Pascasarjana UPI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi katalisator bagi riset-riset multidisiplin yang berorientasi pada solusi strategis atas tantangan transisi energi nasional menuju Indonesia yang lebih bersih, berkeadilan, dan berkelanjutan.