Skip to content

“Visit Prodi Magister Pendidikan BIPA UPI 2026: Membuka Wawasan Global dan Peluang Karier Internasional”

  • by

Foto Bersama Ketua Prodi BIPA, Dosen, Peserta dan Panitia (DOK Panitia Pawang BIPA)

Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sukses menyelenggarakan kegiatan Visit Prodi BIPA pada Jumat, 17 April 2026 secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dekat program studi kepada calon mahasiswa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sekaligus memberikan gambaran komprehensif mengenai prospek akademik dan profesional di bidang BIPA.

Kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi mahasiswa asing pada pukul 13.00 WIB dan sesi mahasiswa Indonesia pada pukul 16.00 WIB. Pada sesi mahasiswa asing, acara dihadiri oleh sekitar 30 orang dari dalam dan luar negeri. Acara dibuka oleh pewara dengan pengantar berbahasa Inggris. Selama kurang lebih 2 jam, acara berlangsung dengan penuh keseruan karena ketua Program Studi Magister Pendidikan BIPA, Dr. Nunny sulistiany Idris memaparkan materi dengan sangat informatif dan tak kalah juga para alumni berbagi kisah dan pengalaman selama berkuliah di prodi BIPA UPI.

Pada sesi mahasiswa Indonesia, acara dibuka oleh pewara dengan penyampaian tata tertib serta pengantar mengenai pentingnya BIPA di era globalisasi. Antusiasme peserta sudah terlihat sejak awal, tercermin dari berbagai respons di kolom chat yang menunjukkan minat besar untuk mendalami BIPA, bahkan hingga aspirasi menjadi pengajar BIPA di luar negeri.

Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan penayangan video profil Program Studi BIPA sebagai pengantar untuk mengenal lebih dalam bidang kajian ini. Sambutan sekaligus pemaparan strategis disampaikan oleh Dr. Nunny, yang menyoroti perkembangan BIPA di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa bahasa Indonesia kini semakin diakui secara internasional, termasuk digunakan dalam forum UNESCO serta berbagai kegiatan keagamaan di Vatikan. Selain itu, permintaan pengajar BIPA terus meningkat, dengan beberapa negara seperti Ekuador, Tanzania, dan Swedia mulai membuka peluang baru bagi pengajar BIPA Indonesia.

Pemaparan utama disampaikan oleh Ibu Suci selaku perwakilan program studi. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa BIPA bukan sekadar pembelajaran bahasa, melainkan juga sarana diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Kurikulum dirancang berbasis riset dan praktik nyata, dengan pendekatan interkultural yang kuat. Mahasiswa dibekali kompetensi dalam pengembangan kurikulum, asesmen, media pembelajaran, serta pengalaman langsung mengajar pemelajar asing melalui kerja sama internasional.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa jumlah pemelajar BIPA terus meningkat setiap tahun, dari 172 ribu pada 2023 menjadi 200 ribu pada 2025, yang menunjukkan besarnya peluang karier di bidang ini. Lulusan program ini tidak hanya berprofesi sebagai pengajar BIPA, tetapi juga dapat menjadi peneliti, pengembang kurikulum, hingga wirausahawan di bidang kebahasaan. Sistem perkuliahan yang fleksibel (hybrid dan asinkron) juga memungkinkan mahasiswa yang sudah bekerja untuk tetap melanjutkan studi.