Skip to content

“Women in Science and Engineering Writing Academy SPs UPI Dorong Perempuan Peneliti Publikasi Bereputasi”

  • by

BANDUNG, 26 Oktober 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) menyelenggarakan Women in Science and Engineering Writing Academy bertema “Empowering Women Researchers to Publish with Impact” pada Senin (26/10/2026) di Auditorium Lantai 5 SPs UPI. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Akselerasi Peningkatan Reputasi Internasional Jurnal Ilmiah Indonesia (Program RINJANI) Tahun 2026 yang berfokus pada penguatan publikasi ilmiah di ASEAN Journal of Science and Engineering (AJSE). Kegiatan tersebut diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan peneliti umum sebagai upaya meningkatkan kapasitas peneliti perempuan dalam menghasilkan karya ilmiah berkualitas dan menembus jurnal internasional bereputasi.

Kegiatan dibuka oleh Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, M.Si., Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Penjaminan Mutu SPs UPI. Pembukaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama pimpinan dan tamu undangan. Melalui kegiatan ini, SPs UPI menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kompetensi akademik, memperluas kesempatan perempuan untuk berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, serta meningkatkan daya saing publikasi ilmiah Indonesia di tingkat internasional.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Karlisa Priandana, S.T., M.Eng., dari Departemen Ilmu Komputer, FMIPA IPB University, dan Dr. Nina Widiawati, S.Pd., M.Si., Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kedua sesi dipandu oleh Dr. Rita Anggorowati, M.Pd., Head of Advanced Learning Hub sekaligus dosen SPs UPI.

Dalam pengantarnya, moderator mengangkat data UNESCO Institute for Statistics yang menunjukkan masih terbatasnya keterwakilan perempuan dalam bidang penelitian di tingkat global. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas, akses, dan partisipasi perempuan dalam kegiatan penelitian serta publikasi ilmiah. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan menulis akademik perlu disertai dengan penciptaan lingkungan ilmiah yang inklusif, suportif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi peneliti perempuan untuk berkembang.

Sesi pertama menghadirkan Dr. Karlisa Priandana, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komputer Kelas Khusus IPB University sekaligus Senior Member IEEE. Dalam paparannya yang berjudul “Strategi Perempuan Berkarya, Bertumbuh, dan Menembus Jurnal Internasional Bereputasi”, ia membahas tiga aspek utama, yaitu dinamika perempuan dalam sains dan rekayasa, struktur artikel ilmiah, serta strategi publikasi di jurnal internasional bereputasi.

Dr. Karlisa menegaskan bahwa persoalan perempuan dalam sains bukanlah tentang siapa yang lebih mampu, melainkan bagaimana memahami konteks, mengelola hambatan, dan membangun ruang yang mendukung pertumbuhan profesional. Menurutnya, perempuan perlu memahami dinamika kehidupan dan karier tanpa dibatasi stigma maupun stereotip. Tanggung jawab profesional dan keluarga juga perlu dipandang secara realistis karena keduanya sering kali melibatkan beban kerja berbayar maupun tidak berbayar.

Melalui konsep M-curve, ia menjelaskan bahwa perjalanan karier perempuan tidak selalu bergerak secara linear. Pada fase tertentu, perkembangan karier dapat melambat sebelum kembali pulih dan mengalami akselerasi. Karena itu, perempuan peneliti perlu membangun strategi yang adaptif, memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar, dan mengembangkan jejaring profesional yang kuat.

“Tujuan kita bukan menjadi superwoman, melainkan bertahan dalam sistem, kemudian menghasilkan karya bermutu dalam sistem yang lebih sehat dan adil,” ujarnya.

Ia turut membagikan sejumlah strategi praktis, mulai dari menentukan prioritas, menegosiasikan dukungan dengan keluarga dan tim, membangun jejaring mentor dan sponsor, mendokumentasikan capaian profesional, hingga membedakan kecemasan dari persoalan yang benar-benar perlu diprioritaskan. Ia juga mendorong perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan apabila perubahan sistem diperlukan guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan inklusif.

Dalam aspek penulisan ilmiah, Dr. Karlisa menguraikan struktur IMRAD (Introduction, Methods, Results, and Discussion) sebagai kerangka untuk menyampaikan kontribusi penelitian secara sistematis, jelas, dan terukur. Ia menekankan bahwa tantangan publikasi tidak semata-mata terletak pada kemampuan menulis, tetapi juga pada ketepatan strategi dalam menentukan jurnal, menyusun kebaruan penelitian, dan menyajikan kontribusi ilmiah.

Sejumlah faktor yang dapat menyebabkan penolakan naskah oleh editor antara lain ketidaksesuaian cakupan artikel dengan jurnal yang dituju, kebaruan penelitian yang tidak jelas, persoalan etika dan plagiarisme, serta ketidaksesuaian format penulisan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, peserta didorong memeriksa status indeksasi jurnal melalui sumber resmi, termasuk Scopus Sources, serta mewaspadai jurnal predator.

Selain itu, penulis perlu mempersiapkan dokumen pendukung, seperti cover letter, research highlights, graphical abstract, dan supplementary files, sesuai dengan ketentuan jurnal tujuan. Dalam menanggapi komentar reviewer, penulis disarankan memberikan jawaban secara rinci, santun, dan berbasis argumentasi akademik. Perbedaan pendapat dengan reviewer tetap dimungkinkan selama disampaikan dengan alasan ilmiah yang kuat.

Sesi kedua menghadirkan Dr. Nina Widiawati, alumni Pendidikan Fisika UPI yang kini berkiprah sebagai Peneliti Ahli Muda di BRIN. Melalui materi berjudul “From Teaching Physics to Nuclear Researcher: My Journey in Scientific Writing and Publication”, ia membagikan perjalanan profesionalnya dari guru fisika SMA dan SMK, dosen fisika dasar, hingga menjadi peneliti di bidang teknologi reaktor nuklir.

Ia membuka paparannya dengan pesan, “Dengan membaca, kita mengenal dunia. Dengan menulis, kita dikenal dunia.”

Dr. Nina menjelaskan bahwa pengalaman mengajar merupakan modal penting dalam membangun karier penelitian, bukan hambatan untuk memasuki dunia riset. Kebiasaan mengamati proses pembelajaran, mengidentifikasi permasalahan, dan mencoba pendekatan baru memiliki keterkaitan erat dengan tahapan penelitian ilmiah. Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang relevan dan menghasilkan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, artikel ilmiah bukan sekadar kumpulan data, melainkan sebuah cerita ilmiah yang utuh. Penulis perlu memilih dan menyajikan data yang mendukung argumentasi, menunjukkan kesenjangan penelitian secara jelas, serta merumuskan kebaruan (novelty) secara eksplisit agar kontribusi penelitian dapat dipahami pembaca.

Ia juga membagikan empat kebiasaan untuk menjaga produktivitas menulis, yaitu menyediakan waktu khusus untuk menulis secara konsisten, membangun bank ide untuk mendokumentasikan gagasan, memperoleh dukungan keluarga, dan menjalin kolaborasi dengan rekan yang dapat diandalkan. Menurutnya, dukungan keluarga dapat dibangun melalui komunikasi terbuka mengenai kebutuhan waktu menulis dan pembagian peran di rumah, terutama ketika menghadapi tenggat penyelesaian naskah.

Dalam strategi publikasi, Dr. Nina menyarankan peneliti memilih jurnal yang paling sesuai dengan substansi penelitian, bukan semata-mata jurnal yang paling terkenal. Pemeriksaan status indeksasi melalui sumber resmi juga menjadi langkah penting untuk memastikan ketepatan pilihan jurnal.

Ketika menerima masukan dari reviewer, penulis perlu menjawab setiap komentar secara spesifik dan berdasarkan bukti ilmiah. Ia mengingatkan bahwa penolakan atau kritik terhadap naskah merupakan bagian dari proses akademik yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas penelitian.

“Yang dinilai adalah naskah, bukan pribadi kita,” tuturnya.

Untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan keterlacakan karya ilmiah, Dr. Nina mendorong peneliti mengelola profil akademik melalui ORCID, Google Scholar, dan Scopus Author ID. Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari kebiasaan menunda pengiriman naskah karena merasa belum cukup kompeten, membiarkan kolaborasi tanpa komitmen yang jelas, serta tidak menyepakati urutan penulis sejak awal.

Menutup paparannya, ia menyampaikan tiga pesan utama kepada peserta: mulai saja terlebih dahulu, jangan berjalan sendirian, dan tetap konsisten. Pesan tersebut menegaskan bahwa produktivitas publikasi ilmiah membutuhkan keberanian untuk memulai, dukungan kolaboratif, serta komitmen untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas karya.

Kedua sesi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggali lebih dalam strategi penulisan, pemilihan jurnal, pengelolaan karier penelitian, serta berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam menghasilkan publikasi ilmiah. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan sesi foto bersama.

Dalam rangkuman kegiatan, Dr. Rita Anggorowati menyampaikan bahwa kedua narasumber memiliki kesamaan pandangan mengenai kunci keberhasilan perempuan peneliti. Keberhasilan tidak ditentukan oleh tuntutan untuk menjadi superwoman, tetapi oleh kemampuan menyusun strategi, membangun dukungan, dan menjaga konsistensi dalam berkarya.

Melalui Women in Science and Engineering Writing Academy, SPs UPI berharap semakin banyak perempuan peneliti Indonesia yang memiliki kepercayaan diri, kompetensi, dan keberanian untuk memublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal internasional bereputasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem akademik yang produktif, kolaboratif, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan reputasi internasional perguruan tinggi.

Penyelenggaraan kegiatan ini selaras dengan komitmen SPs UPI dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 Quality Education melalui peningkatan kompetensi dosen, mahasiswa, dan peneliti dalam penulisan serta publikasi ilmiah; SDGs 5 Gender Equality melalui penguatan kapasitas dan partisipasi perempuan dalam sains, rekayasa, penelitian, serta kepemimpinan akademik; dan SDGs 9 Industry, Innovation and Infrastructure melalui dukungan terhadap pengembangan penelitian, inovasi, dan penyebarluasan pengetahuan berbasis bukti ilmiah. Kegiatan ini juga mendukung SDGs 10 Reduced Inequalities dengan mendorong terciptanya lingkungan penelitian yang lebih inklusif serta mengurangi hambatan struktural dan stereotip gender dalam pengembangan karier akademik. Selain itu, keterlibatan akademisi dari IPB University, BRIN, dan SPs UPI mencerminkan semangat SDGs 17 Partnerships for the Goals melalui pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring profesional, dan kolaborasi lintas institusi. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan perempuan peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Kegiatan ini turut mendukung pembangunan Zona Integritas (ZI) di lingkungan SPs UPI, terutama dalam penguatan budaya kerja profesional, peningkatan kualitas layanan pendidikan, serta pengembangan tata kelola akademik yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada mutu. Penguatan kapasitas peneliti melalui pelatihan publikasi ilmiah mendorong tumbuhnya budaya akademik yang menjunjung tinggi integritas, objektivitas, keterbukaan, dan tanggung jawab dalam menghasilkan serta menyebarluaskan pengetahuan. Penekanan terhadap pencegahan plagiarisme, verifikasi kredibilitas jurnal, ketepatan pencantuman penulis, dan respons yang etis terhadap proses peer review juga sejalan dengan upaya membangun ekosistem penelitian yang berintegritas. Melalui kegiatan yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis peningkatan kompetensi ini, SPs UPI terus memperkuat komitmen terhadap tata kelola perguruan tinggi yang bersih, profesional, berintegritas, serta mampu memberikan layanan akademik berkualitas bagi seluruh sivitas akademika dan masyarakat.