BANDUNG – Tim Pengelolaan Sampah dan Area Hijau Green Metric Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) mengembangkan pengolahan sampah daun menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk pemeliharaan tanaman serta dikemas untuk didistribusikan dan dijual kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang bersih, hijau, dan berkelanjutan melalui pengelolaan bahan organik secara mandiri.
Daun yang berguguran di sekitar perkantoran dan area hijau kampus menjadi bahan utama pengomposan. Melalui proses pengumpulan, pencacahan, dan pengolahan, tim mengembalikan manfaat bahan organik tersebut untuk mendukung pemeliharaan tanaman. Pengelolaan ini membantu mengurangi sampah yang harus diangkut keluar dari lingkungan kampus sekaligus membuka peluang pemanfaatan produk hasil olahannya.
Inisiatif tersebut memperlihatkan hubungan antara pengelolaan kebersihan dan pemeliharaan ruang hijau. Sampah daun yang berasal dari tanaman diolah menjadi kompos, kemudian dimanfaatkan kembali untuk merawat tanaman di lingkungan SPs UPI. Dengan demikian, kegiatan kebersihan memiliki keterkaitan langsung dengan upaya menjaga keberlanjutan area hijau kampus.
Dalam pelaksanaannya, Tim Pengelolaan Sampah dan Area Hijau Green Metric SPs UPI menggunakan dua metode utama, yaitu pengomposan anaerob dan pemanfaatan lubang resapan biopori. Kedua metode tersebut menjadi cara untuk mengolah bahan organik yang tersedia di lingkungan kampus menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Pada metode anaerob, sampah daun yang telah dikumpulkan dicacah terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik kedap udara. Tim kemudian menambahkan larutan Effective Microorganisms 4 (EM4) dan molase untuk membantu proses fermentasi. Kantong diikat erat, lalu ditempatkan di lokasi yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung.
Dalam proses yang diterapkan tim, hasil pengomposan anaerob dapat dipanen setelah sekitar 35 hari. Tahapan pengolahan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sampah organik membutuhkan proses dan waktu. Daun yang dikumpulkan melalui kegiatan pemeliharaan lingkungan diproses hingga menghasilkan kompos yang selanjutnya digunakan untuk kebutuhan tanaman.
Metode berikutnya memanfaatkan lubang resapan biopori dengan tabung yang ditanam hingga kedalaman satu meter. Sampah daun yang telah dicacah dimasukkan ke dalam tabung, kemudian diberi penutup. Melalui metode ini, tim memperoleh hasil pengomposan dalam waktu sekitar satu bulan.
Pemanfaatan biopori juga ditujukan untuk membantu peresapan air hujan dan mendukung pemeliharaan kondisi tanah di area SPs UPI. Pengolahan sampah melalui cara ini menghubungkan penanganan bahan organik dengan pengelolaan lingkungan fisik kampus. Kehadiran fasilitas tersebut memperluas fungsi area hijau sebagai bagian dari lingkungan yang dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan.
Kompos hasil pengolahan dimanfaatkan untuk merawat tanaman anggur serta berbagai tanaman buah lainnya di lingkungan SPs UPI. Pemanfaatan secara internal ini memberikan kegunaan langsung bagi kegiatan pemeliharaan tanaman. Bahan organik yang berasal dari lingkungan kampus kembali digunakan untuk menunjang keberlangsungan ruang hijau di tempat yang sama.
Sebagian hasil panen kompos juga dikemas untuk didistribusikan dan dijual kepada masyarakat umum. Langkah ini membuka peluang nilai ekonomi dari pengolahan sampah daun. Produk yang dihasilkan memiliki kegunaan bagi masyarakat yang membutuhkan kompos untuk pemeliharaan tanaman, sekaligus memperluas manfaat pengelolaan lingkungan yang dilakukan SPs UPI.
Aspek ekonomi tersebut menambah arti penting pengolahan sampah secara mandiri. Selain menghasilkan bahan untuk kebutuhan internal, kegiatan ini membuka kemungkinan pengembangan produk yang dapat dipasarkan. Nilai tambah muncul melalui proses pengolahan yang mengubah bahan buangan menjadi produk dengan fungsi yang jelas.
Rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan penerapan prinsip ekonomi sirkular di lingkungan kampus. Daun dimanfaatkan sebagai bahan pengomposan, hasilnya digunakan untuk pemeliharaan tanaman, dan sebagian produk disalurkan kepada masyarakat. Pemanfaatan kembali bahan organik ini memperpanjang kegunaannya sekaligus membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Dalam konteks pengelolaan kampus, pendekatan tersebut menempatkan penanganan sampah sebagai tanggung jawab yang dimulai dari sumbernya. Pengolahan di tingkat unit kerja memungkinkan bahan organik dimanfaatkan di lingkungan tempat sampah tersebut dihasilkan. Praktik ini menjadi contoh bagaimana kegiatan operasional sehari-hari dapat diarahkan untuk mendukung penggunaan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Kegiatan Tim Green Metric SPs UPI juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengolahan daun menjadi kompos sejalan dengan arah Target 12.5 mengenai pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali. Keterkaitan tersebut terlihat pada pemanfaatan bahan organik yang sebelumnya berpotensi dibuang menjadi produk yang memiliki kegunaan.
Dukungan terhadap SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan tercermin melalui pengelolaan sampah di lingkungan kampus. Upaya ini sejalan dengan arah Target 11.6 yang memberikan perhatian pada pengurangan dampak lingkungan perkotaan, termasuk melalui pengelolaan sampah. Pada lingkup SPs UPI, kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengolahan sampah daun di sumber dan pemanfaatan hasilnya untuk pemeliharaan lingkungan.
Dalam kerangka kinerja institusi, pengolahan sampah daun ini relevan dengan Indikator Kinerja Khusus (IKK) 5.2, yaitu persentase unit yang telah melakukan pengolahan sampah mandiri. Pelaksanaan pengomposan menunjukkan adanya praktik pengolahan bahan organik di tingkat unit kerja. Keberlanjutan pelaksanaan serta dokumentasi kegiatannya menjadi bagian penting untuk mendukung pencatatan dan evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan.
Inisiatif tersebut turut mendukung penguatan praktik kampus berkelanjutan yang berkaitan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) 5.1 tentang peringkat universitas dalam pencapaian UI GreenMetric. Pengolahan sampah dan pemeliharaan area hijau menjadi bentuk pelaksanaan tanggung jawab lingkungan yang dapat memperkuat upaya universitas dalam mengembangkan kampus berkelanjutan.
Sebagai bagian dari lingkungan pendidikan tinggi, praktik pengolahan sampah ini juga dapat menjadi contoh pembelajaran keberlanjutan bagi warga kampus. Proses mengubah daun menjadi kompos memberikan gambaran yang mudah diamati mengenai hubungan antara aktivitas sehari-hari, penggunaan sumber daya, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Potensi pembelajaran tersebut dapat memperluas pemahaman bahwa kepedulian lingkungan tumbuh melalui pengetahuan yang disertai kebiasaan bertindak.
Melalui kegiatan ini, Tim Pengelolaan Sampah dan Area Hijau Green Metric SPs UPI memperlihatkan manfaat pengelolaan lingkungan yang menghubungkan kebersihan, perawatan tanaman, dan pemanfaatan produk. Pengolahan sampah daun menjadi kompos menghadirkan contoh konkret bahwa bahan organik di sekitar kampus dapat dikelola untuk memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

