Skip to content

“Kuliah Bersama SPs UPI: Menguatkan Kompetensi Metodologi, Integritas Akademik, dan Budaya Riset Berkelanjutan”

  • by

BANDUNG, 10 September 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan Kuliah Bersama sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi akademik dan metodologis mahasiswa dalam merancang penelitian yang sistematis, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, S.Pd., M.Si. dengan materi Desain Penelitian Kualitatif, dilanjutkan dengan Dr. Yanti Heriyawati, S.Pd., M.Hum. yang membahas Mixed Method.

Kegiatan ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai pilihan paradigma, desain penelitian, strategi pengumpulan dan analisis data, hingga aspek keabsahan dan etika dalam penelitian. Penguatan kompetensi tersebut penting bagi mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan dan mengembangkan penelitian tesis maupun disertasi.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, S.Pd., M.Si. menyampaikan materi mengenai Desain Penelitian Kualitatif. Materi diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami filosofi dan karakteristik penelitian kualitatif, membedakan berbagai desain penelitian, menyusun kerangka desain penelitian, serta menilai keabsahan atau trustworthiness data.

Dalam materi dijelaskan bahwa penelitian kualitatif berangkat dari paradigma interpretif/konstruktivis yang memandang realitas sebagai sesuatu yang subjektif, jamak, dan dikonstruksi secara sosial. Tujuan utamanya bukan sekadar melakukan generalisasi atau pengujian hipotesis, melainkan memperoleh pemahaman yang mendalam dan pemaknaan terhadap suatu fenomena.

Karakteristik penelitian kualitatif juga ditunjukkan melalui penggunaan sumber data yang majemuk, seperti wawancara, observasi, dan dokumen. Analisis dilakukan secara induktif sehingga pola dan tema dapat muncul dari data, sementara penelitian dilakukan dalam latar alamiah dengan peneliti sebagai instrumen utama. Perspektif dan makna dari partisipan menjadi perhatian penting dalam proses penelitian, serta desain penelitian dapat berkembang menyesuaikan dinamika selama proses riset.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada lima desain penelitian kualitatif utama, yaitu studi kasus, fenomenologi, grounded theory, etnografi, dan narrative inquiry. Masing-masing memiliki fokus yang berbeda, mulai dari eksplorasi mendalam terhadap suatu kasus, memahami esensi pengalaman hidup, membangun teori secara induktif, memahami pola budaya suatu kelompok, hingga mengeksplorasi kehidupan melalui cerita personal.

Pembahasan kemudian diperkuat dengan aspek keabsahan data kualitatif, meliputi kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Strategi yang dapat digunakan antara lain triangulasi sumber atau metode, member checking, thick description, audit trail, serta refleksivitas peneliti.

Tidak kalah penting, materi juga menempatkan etika penelitian sebagai bagian integral dari proses penelitian kualitatif. Prinsip informed consent, kerahasiaan dan anonimitas, refleksivitas peneliti, serta penyajian suara dan makna partisipan secara jujur menjadi bagian penting untuk memastikan penelitian dilaksanakan secara bertanggung jawab.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Dr. Yanti Heriyawati, S.Pd., M.Hum. dengan materi Mixed Method. Pembahasan memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai alternatif penggunaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam mengkaji fenomena penelitian.

Melalui materi dan contoh topik riset yang diberikan, mahasiswa diajak melihat bagaimana satu fenomena dapat dikaji melalui perspektif yang berbeda. Salah satu contoh dalam materi mengangkat budaya lokal dan pembelajaran BIPA, dengan pendekatan kualitatif digunakan untuk melihat minat dan interaksi pemelajar di kelas, sementara pendekatan kuantitatif digunakan untuk melihat peningkatan skor pembelajaran setelah mempelajari bahasa Indonesia melalui budaya tertentu.

Contoh lain dalam materi mengangkat fenomena “Aura Farming” Pacu Jalur dan penerimaannya oleh netizen global. Pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk menganalisis keterlibatan pengguna melalui engagement metrics seperti like, share, dan comment, sedangkan pendekatan kualitatif dapat digunakan melalui analisis wacana kritis terhadap komentar netizen internasional serta wawancara mendalam dengan praktisi media sosial untuk memahami bagaimana nilai budaya dinilai secara estetis oleh audiens global.

Contoh tersebut memberikan gambaran bahwa pemilihan pendekatan penelitian perlu disesuaikan dengan pertanyaan penelitian dan karakteristik fenomena yang dikaji. Dengan demikian, Mixed Method dapat menjadi salah satu alternatif strategis ketika peneliti membutuhkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap suatu permasalahan melalui data dan perspektif yang saling melengkapi.

default

Kuliah Bersama ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis mahasiswa dalam memilih desain penelitian, tetapi juga menanamkan pentingnya integritas dalam seluruh proses penelitian. Ketepatan metodologi, objektivitas dalam membaca data, keterbukaan terhadap temuan, perlindungan terhadap partisipan, serta penyajian hasil penelitian secara jujur merupakan bagian dari tanggung jawab akademik seorang peneliti.

Nilai tersebut memiliki keterkaitan erat dengan implementasi Zona Integritas di lingkungan SPs UPI. Prinsip transparansi, akuntabilitas, kejujuran, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap prosedur dalam penelitian sejalan dengan upaya membangun budaya organisasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan.

Dalam konteks Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), budaya integritas tidak hanya diwujudkan melalui tata kelola administrasi, tetapi juga melalui perilaku akademik. Penelitian yang dilakukan dengan data yang dapat ditelusuri, proses yang terdokumentasi, serta pelaporan yang jujur merupakan bentuk konkret dari budaya akademik yang berintegritas.

Konsep audit trail dalam penelitian kualitatif, misalnya, menekankan pentingnya proses riset yang terdokumentasi secara konsisten dan dapat ditelusuri. Sementara itu, refleksivitas mengharuskan peneliti menyadari posisi dan potensi biasnya agar temuan tetap berbasis data, bukan semata-mata opini peneliti. Hal tersebut memiliki semangat yang sejalan dengan pembangunan budaya kerja yang transparan dan akuntabel.

Pelaksanaan Kuliah Bersama juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDGs 4: Quality Education melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang penelitian. Penguatan kemampuan metodologi penelitian juga mendukung SDGs 9: Industry, Innovation and Infrastructure, karena penelitian menjadi salah satu fondasi dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi berbasis bukti. Selain itu, budaya kolaborasi dan berbagi pengetahuan yang dibangun melalui Kuliah Bersama memiliki keterkaitan dengan SDGs 17: Partnerships for the Goals.

Lebih jauh, pembahasan mengenai etika penelitian, integritas akademik, dan tanggung jawab peneliti turut memperkuat nilai-nilai yang mendukung SDGs 16: Peace, Justice and Strong Institutions, khususnya dalam membangun budaya kelembagaan yang transparan, akuntabel, dan berintegritas.

Melalui Kuliah Bersama, SPs UPI terus membangun ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, memilih desain penelitian secara tepat, menghargai data dan perspektif partisipan, serta menjunjung tinggi etika dan integritas akademik.

Penguasaan metodologi penelitian pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan tesis atau disertasi, tetapi juga bagaimana membentuk peneliti yang mampu menghasilkan pengetahuan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar SPs UPI dalam mewujudkan lingkungan akademik yang ilmiah, edukatif, inovatif, berintegritas, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan serta kemaslahatan masyarakat.