Skip to content

“Dzakā’un: Menumbuhkan Kecerdasan dan Integritas dalam Perjalanan Menuntut Ilmu”

  • by

BANDUNG, 11 September 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Mingguan pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di Auditorium Lantai 5 SPs UPI. Kegiatan yang diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan ini menghadirkan Dr. Muhammad Zein Permana, S.Psi., M.Si. sebagai pemateri.

Pengajian rutin ini menjadi bagian dari ikhtiar SPs UPI dalam membangun lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki landasan spiritual dan karakter yang kuat.

Memasuki pertemuan ketiga, kajian mengangkat pembahasan mengenai ilmu dan salah satu syarat penting dalam memperolehnya, yaitu Dzakā’un atau kecerdasan. Materi tersebut melanjutkan rangkaian pembahasan sebelumnya yang mengangkat tema Uluhiah, Illah pada pertemuan pertama dan Sibghah pada pertemuan kedua.

Dalam kajian disampaikan bahwa memperoleh ilmu membutuhkan sejumlah bekal sebagaimana dikenal dalam nasihat ulama:

“Tidaklah ilmu didapat kecuali melalui enam perkara: Dzakā’un, Hirshun, Ijtihādun, Bulghatun, Shuhbatu Ustādz, dan Thūlu Zamān.”

Enam perkara tersebut dapat dimaknai sebagai kecerdasan, kemauan atau antusiasme yang kuat, kesungguhan dalam berusaha, bekal yang memadai, bimbingan seorang guru, serta kesabaran dalam menempuh waktu yang panjang. Keenam unsur ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh ketekunan, lingkungan belajar, guru, dan proses yang berkelanjutan.

Pada pertemuan ketiga, pembahasan difokuskan pada Dzakā’un, yaitu kecerdasan. Kecerdasan tidak semata-mata dipahami sebagai kemampuan menghafal atau memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi juga tercermin dari kemampuan seseorang dalam memahami persoalan dan menemukan jalan keluar dari berbagai masalah.

Kecerdasan menjadi bekal penting dalam proses pendidikan karena memungkinkan seseorang untuk melihat persoalan secara lebih luas, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan menentukan langkah yang tepat.

default

Dalam konteks pendidikan, kajian juga menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan hingga jenjang tertinggi. Perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk generasi. Oleh karena itu, akses terhadap pendidikan yang berkualitas menjadi bagian penting dalam membangun keluarga dan masyarakat yang berilmu.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa ilmu merupakan cahaya. Cahaya akan lebih mudah hadir pada sesuatu yang jernih. Demikian pula ilmu, yang tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga hati dan niat yang bersih.

Dalam perspektif yang dikaitkan dengan nasihat Imam Syafi’i, upaya memperoleh kecerdasan dan ilmu perlu disertai dengan menjauhi dosa, meluruskan niat, serta menjaga kejernihan hati. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membentuk kualitas diri dan akhlak seseorang.

Peserta diajak untuk memahami bahwa kecerdasan perlu diarahkan kepada kebaikan. Orang yang cerdas bukan hanya mereka yang mampu memahami sesuatu dengan cepat, tetapi juga mereka yang mampu memilih lingkungan yang baik, membangun pertemanan yang mendukung kebaikan, serta menggunakan pengetahuannya secara bijaksana.

Kajian juga memberikan refleksi menarik mengenai makna perjalanan. Safar dipahami sebagai bepergian, sementara Masya menggambarkan perjalanan yang disertai niat. Adapun Salaka menggambarkan perjalanan yang dilakukan dengan niat dan kesengajaan untuk mencari ilmu.

Pemaknaan tersebut memberikan pesan bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah perjalanan yang membutuhkan tujuan dan kesadaran. Seseorang tidak cukup hanya bergerak atau menjalani proses, tetapi perlu memiliki niat, arah, dan kesungguhan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Melalui kajian ini, peserta kembali diingatkan bahwa perjalanan intelektual merupakan proses panjang. Dibutuhkan kecerdasan, kesungguhan, guru, bekal, dan kesabaran agar ilmu dapat memberikan manfaat yang nyata.

Pada akhirnya, orang yang berilmu tidak akan mengalami kegelapan yang panjang, karena ilmu menjadi cahaya yang membantu seseorang memahami persoalan, menentukan arah kehidupan, serta menghadapi berbagai tantangan dengan lebih bijaksana.

Pelaksanaan Pengajian Rutin Mingguan di SPs UPI menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan integritas moral. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat SPs UPI dalam mewujudkan insan akademis yang unggul, berkarakter, dan bertakwa.

Dari perspektif Sustainable Development Goals, kegiatan ini terutama berkontribusi pada SDGs 4: Quality Education, melalui penguatan budaya belajar sepanjang hayat dan pengembangan kapasitas manusia. Nilai-nilai spiritual dan pembentukan karakter yang dihadirkan dalam kegiatan juga mendukung SDGs 3: Good Health and Well-being, khususnya dalam membangun kesejahteraan batin dan kehidupan yang bermakna.

Pelaksanaan Pengajian Rutin Mingguan di lingkungan Sekolah Pascasarjana UPI tidak hanya menjadi sarana penguatan spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya integritas dalam kehidupan akademik dan pelaksanaan tugas kedinasan. Nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian, khususnya tentang Dzakā’un atau kecerdasan, memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Kecerdasan dalam kajian tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan intelektual, tetapi juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah secara tepat, bijaksana, dan bertanggung jawab. Dalam konteks Zona Integritas, kecerdasan tersebut dapat diwujudkan melalui kemampuan dosen dan tenaga kependidikan dalam mengambil keputusan berdasarkan aturan, menghindari penyimpangan, memberikan pelayanan secara profesional, serta mencari solusi tanpa mengorbankan prinsip kejujuran dan kepentingan organisasi.

Pesan bahwa ilmu merupakan cahaya yang membutuhkan kejernihan hati juga menjadi refleksi penting bagi pembangunan integritas. Menjauhi dosa, meluruskan niat, dan menjaga kejernihan hati dapat diterjemahkan dalam kehidupan kerja sebagai komitmen untuk jujur, transparan, disiplin, bertanggung jawab, serta menolak segala bentuk gratifikasi, pungutan liar, konflik kepentingan, dan praktik yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Demikian pula, konsep Salaka sebagai perjalanan yang dilakukan dengan niat dan kesengajaan untuk mencari ilmu memberikan pesan bahwa membangun Zona Integritas merupakan proses yang membutuhkan niat yang kuat, kesungguhan, keteladanan, dan konsistensi dalam jangka panjang. Integritas tidak cukup hanya dituangkan dalam kebijakan atau dokumen, tetapi harus menjadi kebiasaan dan budaya yang tercermin dalam setiap aktivitas pelayanan akademik dan administrasi.

Melalui kegiatan pengajian, SPs UPI terus mendorong terbentuknya pribadi yang cerdas sekaligus berintegritas, sehingga kecerdasan yang dimiliki tidak hanya menghasilkan kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga melahirkan perilaku kerja yang jujur, amanah, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan.

Dengan demikian, Pengajian Rutin Mingguan menjadi salah satu ruang pembinaan karakter dan penguatan budaya integritas, sebagai bagian dari ikhtiar SPs UPI dalam mewujudkan lingkungan akademik yang ilmiah, edukatif, religius, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan prima.