Skip to content

“Tim Peneliti UPI Kenalkan Teknologi AR untuk Pembelajaran Tari di Sekolah Inklusif”

  • by

Bandung— Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran seni menjadi salah satu kebutuhan yang semakin penting, khususnya dalam konteks pendidikan inklusif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan kegiatan RISET Afirmasi Dosen bertajuk “Penerapan Teknologi Adaptif Berbasis Kolaborasi untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Tari di SMPK Inklusif Kota Bandung.”

Kegiatan dilaksanakan secara luring pada Senin–Selasa, 15–16 Juni 2026, pukul 08.00–16.00 WIB, dengan melibatkan guru Seni Budaya dari SMP inklusif di Kota Bandung. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Pendidikan Indonesia.

Penelitian tersebut melibatkan 40 guru seni tari dari 20 SMP Negeri inklusif di Kota Bandung. Pada tahap awal penelitian, tim melakukan pemetaan terhadap profil kompetensi pedagogik, kesiapan pemanfaatan teknologi adaptif, praktik kolaborasi, serta kebutuhan dan hambatan yang dihadapi guru dalam pembelajaran seni tari di sekolah inklusif.


Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 2,87. Guru memiliki kekuatan pada kemampuan mengadaptasi materi pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik, yang ditunjukkan melalui skor Adaptive Content Knowledge (ACK) sebesar 3,41. Namun, kemampuan terkait teknologi Augmented Reality (AR) masih menjadi salah satu aspek yang membutuhkan penguatan, dengan skor AR Technological Knowledge (ATK) sebesar 2,43.

Temuan tersebut juga terlihat dari pengalaman guru dalam menggunakan teknologi. Sebanyak 90% guru yang terlibat belum memiliki pengalaman profesional menggunakan teknologi AR atau Artificial Intelligence (AI). Selain itu, 72,5% guru belum pernah mengikuti pelatihan pendidikan inklusif secara formal. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan profesional yang tidak hanya memperkuat kompetensi pedagogik, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam memanfaatkan teknologi adaptif untuk pembelajaran.


Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru
Menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan RISET Afirmasi Dosen menghadirkan sesi penguatan kompetensi pedagogik bagi guru Seni Budaya yang disampaikan oleh Dr. Beben Barnas, M.Pd. Materi penguatan pedagogik diarahkan pada pentingnya kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, khususnya dalam konteks sekolah inklusif. Penguatan ini menjadi landasan bagi guru sebelum mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran.

Dalam pendidikan inklusif, penggunaan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan guru memahami kebutuhan peserta didik. Teknologi perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif, bukan sekadar sebagai perangkat tambahan dalam proses pembelajaran.


Mengenalkan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran
Selain penguatan kompetensi pedagogik, peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) yang disampaikan oleh Palupi Argani, M.Ds.

Pengenalan teknologi AR memberikan wawasan kepada guru mengenai alternatif pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Seni Budaya. AR memungkinkan materi pembelajaran disajikan melalui pengalaman visual dan interaktif sehingga berpotensi memperkaya proses pembelajaran seni, termasuk pembelajaran seni tari.


Kegiatan ini menjadi relevan dengan hasil pemetaan awal penelitian yang menunjukkan bahwa penguasaan teknologi AR merupakan salah satu aspek kompetensi yang masih rendah. Berdasarkan distribusi kompetensi, sebanyak 47,5% guru berada pada kategori rendah dan 17,5% berada pada kategori sangat rendah dalam aspek AR Technological Knowledge (ATK).


Guru Praktik Langsung Menggunakan AR Tari Merak
Pengenalan teknologi AR kemudian dilanjutkan dengan workshop dan praktik langsung. Para guru diperkenalkan pada media pembelajaran AR yang telah dikembangkan oleh tim penelitian, salah satunya berupa AR Tari Merak. Dalam workshop tersebut, guru tidak hanya menyimak penjelasan mengenai teknologi AR, tetapi juga mencoba secara langsung bagaimana menggunakan media tersebut dalam pembelajaran. Guru diarahkan untuk mengeksplorasi penggunaan media AR dan melihat kemungkinan
penerapannya sebagai media pendukung dalam pembelajaran seni tari. Media tersebut digunakan melalui platform Assemblr EDU. Melalui praktik langsung, guru memperoleh pengalaman dalam mengakses dan menggunakan media berbasis AR sehingga
teknologi yang sebelumnya masih relatif asing dapat dipelajari melalui pengalaman konkret.


Kegiatan praktik ini menjadi salah satu bagian penting dalam proses penelitian karena memberikan ruang kepada guru untuk berinteraksi langsung dengan teknologi adaptif. Guru dapat mencoba, mengeksplorasi, dan mendiskusikan bagaimana media tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah masing-masing.


Kolaborasi Menjadi Bagian Penting dalam Implementasi Teknologi
Kegiatan RISET Afirmasi Dosen tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan individu guru dalam menggunakan teknologi. Pendekatan berbasis kolaborasi menjadi salah satu aspek utama dalam proses pengembangan kompetensi guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan teknologi AR memiliki hubungan positif dengan kemampuan pedagogis kolaboratif. Hubungan antara AR Technological Knowledge (ATK) dan Collaborative Pedagogical Knowledge (CPK) tercatat sebesar r = 0,52 (p < 0,01). Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mendukung pemanfaatan
teknologi adaptif dalam pembelajaran.


Kolaborasi juga diperlukan agar pemanfaatan teknologi tidak hanya bergantung pada kemampuan individual guru. Dalam konteks sekolah inklusif, penerapan teknologi adaptif dapat melibatkan guru mata pelajaran, Guru Pendamping Khusus (GPK), serta pihak sekolah dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.

Kegiatan ini melibatkan tim peneliti dosen yang terdiri dari dosen Pendidikan Seni Dr. Reni Haerani, M.Pd., berkolaborasi dengan dosen dari FPSD sekaligus alumni S3 Pendidikan Seni yaitu Dr. Beben Barnas, M.Pd., dan Dr. Arief Johari, M.Ds. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh mahasiswa S2, yaitu Irvan Herlambang, S.Pd., Inke Firdaus, S.Pd., Zahrah Luthfi Kholifah, S.Pd., dan Rijal Fiqrul Aziz, S.Pd.


Melalui rangkaian penguatan pedagogik, pengenalan teknologi AR, serta praktik penggunaan AR Tari Merak melalui Assemblr EDU, kegiatan ini diharapkan dapat membantu guru Seni Budaya membangun kesiapan dalam memanfaatkan teknologi adaptif dalam pembelajaran.


Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UPI untuk mendukung pengembangan profesionalisme guru dan inovasi pembelajaran Seni Budaya di sekolah inklusif. Dengan mengintegrasikan kompetensi pedagogik, teknologi, dan kolaborasi, penerapan teknologi adaptif diharapkan dapat berkembang menjadi praktik pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan
responsif terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik.