Bandung, 23 Juni 2026 – Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia kembali menggelar agenda pengajian rutin yang dihadiri oleh para Guru Besar, dosen, dan civitas akademika pada Selasa (23/06). Bertempat di Ruang Rapat SPs Lantai 1, pengajian kali ini mengangkat tema yang sangat krusial dan kontekstual: “Hijrah Peradaban: Membangun Umat yang Berintegritas, Berilmu, dan Adaptif di Era Kecerdasan Buatan”.
Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. K.H. Sofyan Sauri, M.Pd., yang membedah bagaimana umat Islam, khususnya para pemikir dan akademisi, harus merespons ledakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan pijakan nilai-nilai spiritual yang kuat.
Dalam pemaparannya, Prof. Sofyan Sauri menekankan bahwa kata “hijrah” tidak lagi sekadar bermakna perpindahan fisik, melainkan sebuah transformasi paradigma, mental, dan budaya. Di era kecerdasan buatan, umat manusia dituntut untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemegang kendali arah peradaban.
Ada tiga pilar utama yang disorot dalam pengajian rutin ini untuk membentuk umat yang tangguh:
- Berintegritas (Akhlakul Karimah): Menjadi benteng moral di tengah bias etika yang sering kali ditimbulkan oleh algoritma AI.
- Berilmu (Scientific Excellence): Menguasai teknologi dan literasi digital agar ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan, bukan kehancuran.
- Adaptif (Resilience): Kemampuan untuk terus belajar, berubah, dan menyelaraskan diri dengan cepat terhadap disrupsi teknologi.
Diskusi yang mengalir di antara para Guru Besar SPs ini juga membedah bagaimana konsep “Hijrah Peradaban” ini beririsan langsung dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Sekolah Pascasarjana berkomitmen bahwa penguatan sumber daya manusia di era AI ini mendukung beberapa poin penting SDGs, antara lain; SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas): Pengintegrasian nilai integritas dan ilmu pengetahuan berbasis teknologi memastikan pendidikan yang inklusif, merata, dan adaptif terhadap masa depan kerja (future of work), SDGs Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Dengan membentuk umat yang adaptif terhadap AI, civitas akademika turut mempersiapkan generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru di sektor digital, bukan malah tergilas oleh otomatisasi, dan SDGs Poin 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh): Integritas moral yang kokoh menjadi kunci utama dalam membangun institusi pendidikan dan sosial yang transparan, adil, serta bebas dari penyalahgunaan teknologi (seperti hoax berbasis AI atau pelanggaran privasi data).
Kegiatan pengajian rutin ini menjadi bukti nyata bahwa Sekolah Pascasarjana tidak hanya fokus pada luaran riset yang bersifat kognitif-akademis, tetapi juga konsisten dalam menjaga ruang-ruang refleksi spiritual bagi para pemikir dan Guru Besar.
Di tengah masa libur perkuliahan, antusiasme para jajaran akademik yang hadir memberikan konfirmasi dan sumbangsih pemikiran menunjukkan bahwa ikhtiar membangun umat yang berintegritas adalah proses yang berkelanjutan demi menyongsong peradaban baru yang lebih berkah dan berkemajuan.
