Skip to content

“Tendensi Budaya Korea dan Indonesia: Perspektif Komparatif Memahami Budaya untuk Memperkuat Dialog Antar bangsa”

  • by

Bandung, 9 Juni 2026 – Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Tendensi Budaya Korea dan Indonesia: Perspektif Komparatif” pada Selasa, 9 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari Korea Selatan, Prof. Yekyoum Kim, yang membahas berbagai kecenderungan budaya masyarakat Korea dan Indonesia melalui pendekatan perbandingan budaya.

Kuliah umum ini menjadi ruang akademik yang penting untuk memahami bagaimana budaya membentuk pola pikir, perilaku, dan cara masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sosial. Di tengah meningkatnya hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan, baik melalui pendidikan, ekonomi, maupun fenomena Korean Wave (Hallyu), pemahaman lintas budaya menjadi kebutuhan yang semakin relevan.

Dalam pemaparannya, Prof. Kim menjelaskan bahwa budaya bukan hanya sekumpulan tradisi atau kebiasaan, melainkan suatu sistem yang membentuk cara manusia memandang dunia. Budaya mencakup pola kebudayaan, konteks sosial, nilai-nilai, institusi, hingga simbol-simbol yang digunakan masyarakat untuk memberikan makna terhadap kehidupan.

Melalui perspektif komparatif, peserta diajak melihat bagaimana masyarakat Korea dan Indonesia memiliki kesamaan sebagai bangsa Asia yang menjunjung tinggi hubungan sosial dan kolektivitas, namun memiliki karakteristik yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu fokus utama kuliah umum ini adalah membandingkan kecenderungan budaya kedua negara berdasarkan berbagai penelitian budaya internasional, seperti model budaya Hofstede dan GLOBE Project.

Dalam konteks hubungan sosial, masyarakat Indonesia dikenal memiliki orientasi kekeluargaan yang kuat, toleransi yang tinggi terhadap keberagaman, serta budaya gotong royong yang masih menjadi ciri khas kehidupan sosial. Sementara itu, masyarakat Korea dikenal memiliki etos kerja tinggi, disiplin, orientasi masa depan, serta penghormatan yang kuat terhadap hierarki sosial dan senioritas.

Perbedaan tersebut tidak menunjukkan bahwa satu budaya lebih unggul dibandingkan budaya lainnya. Sebaliknya, perbedaan menjadi sumber pembelajaran yang dapat memperkaya pemahaman antarbangsa dan memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya.

Prof. Kim juga menekankan pentingnya memahami konteks budaya dalam proses komunikasi. Sebuah perilaku atau simbol dapat memiliki makna yang berbeda ketika berada dalam latar budaya yang berbeda. Oleh karena itu, pembelajar bahasa asing tidak cukup hanya menguasai aspek linguistik, tetapi juga perlu memahami konteks sosial dan budaya masyarakat penuturnya.

Bagi mahasiswa dan praktisi BIPA, pemahaman ini sangat penting karena pengajaran bahasa Indonesia kepada penutur asing selalu berkaitan dengan pengenalan budaya Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Sebagai program yang berfokus pada pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing, Pendidikan BIPA memiliki peran strategis dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional. Kuliah umum ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kompetensi interkultural mahasiswa agar mampu menjadi pengajar bahasa yang tidak hanya mengajarkan tata bahasa, tetapi juga menjembatani perbedaan budaya.

Melalui diskusi mengenai budaya Korea dan Indonesia, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya sensitivitas budaya, kemampuan beradaptasi dalam lingkungan multikultural, serta strategi membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat dari latar budaya yang berbeda.

Kuliah umum ini menunjukkan bahwa di era globalisasi, kemampuan memahami budaya lain menjadi salah satu kompetensi penting bagi generasi muda. Interaksi antarbangsa tidak lagi terbatas pada hubungan diplomatik, tetapi telah hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan, teknologi, media sosial, dan budaya populer.

Dengan memahami persamaan dan perbedaan budaya Korea dan Indonesia, peserta diharapkan mampu mengembangkan sikap terbuka, menghargai keberagaman, serta memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dialog budaya bukan hanya sarana untuk mengenal bangsa lain, tetapi juga kesempatan untuk memahami diri sendiri dan memperkaya perspektif dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berwawasan global.