Bandung — Inovasi pendidikan berbasis Augmented Reality (AR) yang dikembangkan Restu Adi Nugraha resmi mengantarkannya meraih gelar doktor pada Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Disertasi berjudul “Penguatan Karakter Kebinekaan Global Pelajar Indonesia melalui Penggunaan Augmented Reality Berbasis Project Citizen” ini tidak hanya menghadirkan terobosan pedagogis, tetapi juga memperkuat langkah internasionalisasi riset Pendidikan Umum dan Karakter.
Penelitian ini lahir dari kegelisahan terhadap meningkatnya intoleransi, polarisasi sosial, serta rendahnya empati lintas budaya di kalangan generasi muda. Di sisi lain, praktik pembelajaran kewarganegaraan di sekolah masih dominan bersifat tekstual dan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS), sehingga belum sepenuhnya mendorong kemampuan reflektif dan partisipatif peserta didik dalam merespons kompleksitas isu global.
Melalui pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), Restu mengembangkan aplikasi AR–GCED berbasis Project Citizen. Model ini mengintegrasikan tiga elemen utama: Global Citizenship Education (GCED) sebagai kerangka nilai global, Project Citizen sebagai pendekatan aksi kewargaan, serta teknologi AR sebagai medium imersif. Peserta didik memindai buku atau lembar kerja menggunakan smartphone, kemudian muncul video isu global, avatar pemandu, dan fitur diskusi berbasis chatbot yang mendorong analisis kritis serta perumusan solusi kebijakan.
Berbeda dengan teknologi imersif berbiaya tinggi seperti VR atau perangkat metaverse, model ini cukup memanfaatkan smartphone yang telah dimiliki mayoritas peserta didik. Inovasi ini dinilai fleksibel, realistis, dan memiliki potensi replikasi luas di berbagai satuan pendidikan dengan tingkat sumber daya yang beragam.
Promotor disertasi, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., menyampaikan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pedagogi kewarganegaraan yang kontekstual dan adaptif terhadap era digital. Tim Promotor terdiri atas Prof. Dr. Yadi Ruyadi, S.H., M.Si. sebagai Ko-Promotor dan Prof. Dr. Encep Syarief Nurdin, S.H., Drs., M.Pd., M.Si. sebagai anggota promotor. Bertindak sebagai Penguji Dalam adalah Dr. Asep Dahliyana, M.Pd.
Yang menjadi sorotan khusus, sidang promosi doktor ini menghadirkan perspektif internasional melalui keterlibatan Profesor Madya Dr. Nadarajan A/L Thambu dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, sebagai Penguji Luar Negeri. Keterlibatan akademisi dari UPSI tersebut menegaskan bahwa kajian ini tidak hanya relevan pada konteks nasional, tetapi juga memiliki resonansi dalam diskursus pendidikan kewarganegaraan global di tingkat regional. Momentum ini sekaligus memperkuat jejaring akademik lintas negara dalam bidang pendidikan umum dan karakter.
Dalam paparannya, Restu menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar tentang teknologi. “Augmented Reality hanya alat. Esensinya adalah transformasi pembelajaran nilai, bagaimana peserta didik belajar berempati, berdialog secara rasional, dan bertindak secara bertanggung jawab dalam konteks kebinekaan global,” ujarnya.
Pencapaian ini mencerminkan komitmen Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter, Sekolah Pascasarjana UPI, dalam mendorong penelitian inovatif yang berdampak nyata, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta relevan dengan agenda penguatan karakter dan kewarganegaraan global. Lebih jauh, keterlibatan penguji dari UPSI Malaysia mempertegas langkah internasionalisasi riset UPI dalam membangun kolaborasi akademik lintas negara, dan memperluas pengakuan ilmiah pada level internasional.




